How many people reading my blog?

Sabtu, 22 Agustus 2015

Terduga jauh ternyata dekat

Mungkin cerita ini sudah mainstream untuk sebagian dari kalian (para pembaca), atau mungkin cerita ini hanya terlihat seperti karangan fiksi. Tetapi tidak :). Gw ingin menceritakan tentang sesuatu, yang mungkin kalian sebagian juga pernah mengalami atau tidak. Sebuah dongeng. Kenapa dibilang dongeng? Karena kirain gw cerita ini hanya datang di ftv/ di dongeng.
Tetapi, gw ternyata memilikinya. Gw ternyata pernah merasakaan dongeng ini...


Awal masuk ke era putih abu-abu, disaat kami semua masih lugu dan masih ada bau putih biru dongker di sisi kami. Di masa kami masih tidak mengenali kanan kiri kami, masih selalu diam dan malu. Sebuah dongeng pun dimulai ketika seseorang dari sisi kanan masuk ke lapangan, cahaya matahari menyinari rambutnya yang disisir rapih, kacamatanya pun selalu ada membantu penglihatannya. Kami semua duduk rapih.
Iya, dia mungkin orang pertama di era baru ini yang aku kasih perhatian lebih. Aku lebih memandangnya, lebih memperhatikannya, dan ingin tau lebih dalam tentangnya.

Setelah 3 hari, memandangnya. Hanya 1 hal yang ada di pikiranku tentangnya. Tidak mungkin.
Ya, tidak mungkin. Tidak mungkin aku bisa dekat dengannya, tidak mungkin pula aku bisa bicara dekat dengannya. Ia tampak seperti salah satu pelajar di sekolah yang akan disukai semua orang, alias popular. Mungkin salah satu alasannya adalah... senyumnya.

Aku juga berpikiran ini terlalu awal untuk memulai perasaan seperti itu. Perasaan yang tidak mungkin aku akan tahan. Jadi aku mencoba untuk melepaskan pikiran tersebut dan lebih fokus ke hal yang lebih penting.


Sudah hampir satu tahun setengah, masih ingatkan aku padanya? Tentu. Kami selalu duduk di ruang yang sama, kadang dilapangan yang sama juga. Ya kami pernah bicara dan hal-hal yang aku pikirkan tentangnya selama satu tahun itu lumayan beda. Dan ekspektasiku-ekspektasiku juga beda.
Ia baik, baik dalam artian baik hati dalam membantu kawan, dia juga sangat unik. Bebas mengutarkan perkataannya. Kadang jutek, kadang gembira, sungguh aneh.

Dan ya, dia popular dikalangan manapun. Jika kita ada di anime/manga dia adalah salah satu karakter di genre shouju yang popular, cool, dan agak dingin atau jutek. Kakak kelas banyak menyukainya. Secara langsung ataupun diam-diam. Ada hal lain yang buat aku kaget sekaligus senang sekali, tetapi tak harus lah mengatakannya secara detail...

Selepas liburan panjang, masuk lagi. Banyak yang berbisik sana-sini, mengatakan bahwa dongeng yang aku pikir hanya dongeng, cerita yang aku pikir hanya di manga/anime terjadi pada ku. Awalnya aku sangat tidak percaya. Semakin banyak yang berbisik dan berkata padaku. Aku kaget dan senang, perasaan yang menggelitik perut tetapi mengapa hatiku merasa ada yang tidak beres.

Aku berusaha tenang, karena ini masih hanyalah percakapan kecil atau malah hanya gossip. Tidak mungkin cerita di shouju yang aku sering baca itu, terjadi. Lagian, diriku saja biasa, tak cantik seperti yang di dongeng-dongeng tersebut dan pula tak secantik perempuan-perempuan yang lebih menyukai-nya/ dia.

Pikiranku bergelimang kemana-mana, memikirkan hal-hal yang akan terjadi, dan apa yang sedang terjadi. Kadang aku juga flashback bagaimana dulu, yang aku pikir dan aku duga dia sangat jauh dariku ternyata... bisa dekat. Seperti aku bisa saja hanya menapak 3 batu di depanku untuk mencapai apa yang kumau, mungkin sedekat itu.

Aku semakin senang dan girang dengan hanya memikirkannya, sesuatu yang tak pernah aku duga terjadi.

Tetapi seiring dengan waktu, dan semakin banyak pembicaraan dari sana-sini mengenai dia ataupun aku. Hati ku semakin berat, rasanya ada yang tidak beres. Semakin aku tidak percaya dengan semuanya, semakin percaya ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Wake up! semakin merasa 'ah ini semua cuma lelucon' dan aku mengingat perkataan ku pada awal era putih abu-abu tersebut.  

Tidak mungkin.

Ia pun tidak pernah mengutarkan atau mengatakan apapun tentang pembicaraan yang di omongkan yang lain.
Dongeng ini pun tidak tau akan bersambung atau berakhir dimana, sampai mana, kapan. Entah perasaan nya dan ku masih, berubah, atau tidak. Karena aku juga sudah tidak tau sendiri bagaimana sebenernya diriku ini. Aku masih takut, sepertinya aku tetap saja menjadi philophobia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar