How many people reading my blog?

Selasa, 28 Juni 2016

Kedewasaan // Mature



Gue akan memberikan sedikit opini dan sisi gue mengenai 'dewasa' atau kedewasaan.
I'm going to give a piece of my mind about 'mature' or 'maturity'.

Kedewasaan bukanlah hal yang mudah, butuh proses dan butuh langkah yang besar untuk mencapainya. Bukanlah sesuatu yang dapat kita beli ataupun jual. Dan untuk memasuki tingkat 'kedewasaan' itu tidak semudah memajukan kaki kanan ataupun kaki kiri.



Tetapi, dewasa itu relatif. Kedewasaan seseorang itu relatif karena setiap orang mempunyai perspektif dan pemikirannya masing-masing. Mustahil sekali jika kita ingin semua orang di dunia memiliki satu pemikiran yang sama atau satu otak yang sama. Pasti tidak ada keberagaman.

Seseorang dapat dilihat atau dikatakan sudah mencapai 'kedewasaan' atau dewasa itu berbeda-beda.
Ada yang berpikiran mungkin bahwa kalau sudah punya pekerjaan baru dia sudah dewasa.
Ada yang berpikir kalau bisa mencari nafkah atau menjalani hidup sendiri baru sudah dewasa.
Ada yang berpikir bahwa kalau ia bisa menanggung resiko baru sudah dewasa.
Ada yang berpikir bahwa kalau ia bisa mempunyai jalan pikiran yang lebih luas baru sudah dewasa.

Seperti tadi, Dewasa itu relatif. Sama halnya dengan cantik atau ramah hati. Semuanya relatif. Pemikiran orang berbeda-beda.

.
.
.

Menurut saya, kedewasaan atau titik menuju dewasa itu bukan cuma
ia bisa belajar dari kekalahan,
ia bisa belajar untuk menerima dan mengalah,
ia bisa belajar untuk tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tapi orang lain,
ia bisa melihat dari sisi lain,
ia bisa mempunyai jalan pikiran yang luas dan melihat dari perspektif lain,
ia bisa dengan mudah memaafkan,
ia bisa belajar untuk beresiko sekaligus menanggung resiko tersebut,
ia bisa belajar untuk menghargai orang lain,
ia bisa menanggungi hidup sendiri,
ia bisa meninggalkan kesalahan atau hal buruk di masa lalunya dan lebih fokus ke depan.

Yang terpenting dari kedewasaan adalah: Mencoba, menerima, dan menghargai.
Belajar dari kesalahannya dan mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Pastinya di masa-masa umur 15-18 tahun ini kita udah mencoba lebih keras untuk mengenal yang namanya 'kedewasaan' dan lebih mencoba untuk bersikap dewasa. Bersikap dewasa dan bertingkah dewasa itu adalah hal yang berbeda. Dewasa itu bukan ditunjuk oleh umurnya tetapi pribadi dan sikapnya. Bisa saja seorang 8 tahun mempunyai pemikiran lebih luas dibanding orang 'dewasa' berumur 21 tahun.

Bertingkah dewasa? apakah menurut mu seperti minum bir, pergi ke club, bisa mengendarai mobil, bisa keluar malam dengan sebebasnya sepuasnya. Jika itu menurut mu? Engkau baru melihat sisi yang sangat sedikit dalam dewasa, baru melihat sisi yang 'bebas' atau sisi yang 'baru bisa dilakukan saat dewasa tetapi dilarang saat masih kecil'.

Menjadi dewasa tidaklah sebebas itu. Lebih banyak drama, lebih banyak berpikir, lebih banyak resiko yang harus di tanggung, memerhatikan hal hal yang dulu saat kecil kita tidak perhatikan, membayar pajak, lebih banyak beban karna kita sudah mulai belajar untuk bertahan hidup sendiri dan tidak sepenuhnya kepada orangtua atau orang lain. Kedewasaan adalah sebuah tantangan yang tidak ada batasnya.

Kadang saat kita sudah capek padahal baru seperempat jalan di pintu gerbang 'kedewasaan'. Ingin juga pergi kembali ke masa masa kecil, masa masa dimana kita tidak terlalu memperdulikan apa yang orang lain pikirkan. Yang dimana kita bisa main dengan nyaman dan asik bersama siapa saja, tidak mementingkan drama atau gossip. Dan pikiran kita lebih diisi dengan imajinasi dan kreasi. Ya, semua orang pasti kangen akan hal itu. I know i do.

Kalau tentang asmara atau cinta monyet di kala SMP-SMA sering sekali mengingatkan tentang kalimat yang sering di temui di internet atau setidaknya socmed.
"Ada seorang gadis dan laki-laki berumuran sama. Gadis akan selalu lebih dewasa dibandingkan laki-laki. Maka dari itu terkadang alasan 'putus' yang terucap dari kata gadis itu karena laki-lakinya terlalu kekanak-kanakan dan tidak bisa dewasa".

= 1) Tidak terlalu 100% yakin dengan kalimat itu, karna semua laki-laki itu berbeda.
2) Tetapi ada yaa... sedikit lah agak percaya (wkwkwk). Mungkin alasan orang berbeda beda. Laki-laki itu mungkin butuh prosesnya juga untuk mencapai sebuah kedewasaan. Contohnya seperti saat SD seorang gadis sangat tinggi dibanding teman laki-lakinya. Perbandingan tingginya sungguh berbeda, tetapi... SMA semuanya berubah. Laki-lakinya lebih tinggi daripada teman gadisnya. Perbedaan yang drastis. Semua butuh proses bukan?

.
.
Masih menjadi misteri sih kenapa perempuan itu lebih dewasa dibanding laki-laki. Apakah karna lingkungan? Karena teman-temannya? karena orangtuanya? atau karna novel dan drama-drama yang sering ia tonton?. Tetapi perlu diyakinkan lagi tidak semua perempuan sama dan tidak semua laki-laki sama. Semua berbeda.

BAGAIMANA CARA MENJADI DEWASA? 


Bagaimana? Tidak ada cara cepatnya. Menjadi dewasa bukanlah sulap tapi sebuah proses yang harus dicapai pelan-pelan atau step by step.
Mungkin cara terbaik adalah pengalaman. Untuk mengalaminya sendiri. 
Ada sebagian orang yang melalui cerita atau pengalam orang lain ia dapat menyimpulkan sendiri dan mengambil sisi positif atau baiknya saja.
Ada juga sebagian orang yang harus dengan pengalamannya sendiri dan mengalaminya sendiri untuk menyimpulkan masalah dan berpikir kritis tentang masalah tersebut.


Pengalaman bisa diambil dari mana saja, lingkungan, teman, kantor, sekolah, rumah, tetangga, tempat umum, dll. Jangan hanya ingin dimanja terus-terusan dan terus bergantung kepada orang lain. Kita harus menjadi lebih baik, lebih percaya diri dan lebih bisa menangani diri sendiri.
Daripada mengurusi urusan orang lain lebih baik kita urusi dulu kita sendiri baik-baik.

Daripada memberi tahu, menyuruh atau malah membentak orang lain "Lebih dewasa!" "Jadilah orang yang lebih dewasa" "kapan sih lo dewasa?" "kekanak-kanakan banget sih, jadi dewasa napa?!".
Tuntun. Bantu mereka mengerti apa itu dewasa. Mereka butuh proses, semua orang butuh proses. Kalau di bilang atau di jelaskan masih belum mengerti apa itu dewasa. Biarkan mereka belajar sendiri, memproses semuanya sendiri. 
Disitulah mereka benar-benar akan belajar menjadi dewasa.


:)

ALL IMAGES ARE FROM GOOGLE. I DO NOT OWN THE IMAGE.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar