How many people reading my blog?

Jumat, 28 Oktober 2016

Kita seperti dua paralel

Hari-hari, minggu-minggu kita bisa berbahagia bersama dapat dihitung dengan jari...
Mengapa begitu?



Mengapa...
Kita seperti dua paralel yang berbeda, dua semesta yang berbeda, sumbu magnet yang saling menolak. Selalu saja seperti itu. Menyebalkan bukan.
Di saat engkau sedang bahagia, mood ku runtuh dan sedih.
Dan juga di saat engkau sedang sedih dan berdiam diri, mood ku menjadi naik dan gembira.
Salah satu hal yang aku benci adalah, ketika aku sedang bersedih orang disebelahku bersorak gembira dan tidak peduli denganku. Mungkin aku cemburu kepadanya, atau mungkin aku haus akan perhatian makanya aku tidak senang dengan hal itu.

Apakah ini hanya kebetulan... apa takdir?
Tidak. Jangan bilang itu takdir, kalau itu takdir kita tidak bisa menyatu. Hanyalah minyak di atas air. Gula pasir dibawah Air dingin.
Mengapa kita tidak bisa berbahagia bersama, mengapa selalu harus salah satu emosi kita menjadi korban. Apakah kita tidak bisa melemparkan senyuman dan tawa kepada satu sama lain?



Aku baru menyadarinya itu.
Mengapa kalau tidak dirimu, pasti diriku. Seperti dua paralel. Sangat dekat namun juga sangat jauh.
Dan terkadang juga, aku harus berpura-pura dan mencoba untuk menjadi sedih, agar engkau bisa bahagia. Demi melihatmu tersenyum kembali dan tertawa bersama teman-temanmu :):

"So close, yet so far"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar